Sabtu, 06 Februari 2021

ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM

Latar Belakang dan Kebijakan Asesmen Nasional Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum Latar Belakang dan Kebijakan Asesmen Nasional IN PROGRESS Hasil PISA membuktikan kemampuan belajar siswa pada pendidikan dasar dan menengah kurang memadai. Pada tahun 2018, sekitar 70% siswa memiliki kompetensi literasi membaca di bawah minimum. Sama halnya dengan keterampilan matematika dan sains, 71% siswa berada di bawah kompetensi minimum untuk matematika dan 60% siswa di bawah kompetensi minimum untuk keterampilan sains. Skor PISA Indonesia stagnan dalam 10-15 tahun terakhir. Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang konsisten dengan peringkat hasil PISA yang terendah. Bagaimana pendapat Anda? Menanggapi kondisi tersebut, reformasi asesmen diperlukan guna mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Pemetaan mutu pendidikan secara menyeluruh dibutuhkan. Untuk itu pada tahun 2021 mendatang, Asesmen Nasional (AN) akan resmi diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Ujian Nasional (UN) sudah tidak lagi diberlakukan. Kebijakan ini ditetapkan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sejumlah dinas dan lembaga terkait. Dalam hal ini, AN diterapkan untuk mengevaluasi kinerja dan mutu sistem pendidikan. Nantinya, hasil Asesmen Nasional tidak memiliki konsekuensi apapun pada pencapaian proses belajar siswa namun memberikan umpan balik untuk tindak lanjut pembelajaran dan kompetensi siswa. Kebijakan terkait penerapan Asesmen Nasional (AN) ini telah disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Anda dapat mendengarkan penjelasannya lebih detail dengan menyaksikan video yang disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Silakan cermati dengan seksama dan mencatat poin penting yang Anda peroleh. Video mas nadiem https://youtu.be/MAADQBghcqQ Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Nama budaya salam kebajikan yang saya hormati Bapak Ibu yang hadir pada acara ketua hari ini Semoga semua diberikan berkah keselamatan dan kesehatan peningkatan sistem evaluasi pendidikan adalah bagian dari kebijakan Merdeka belajar yang didukung penuh oleh Presiden Jokowi dengan tujuan utama mendorong mutu pembelajaran dan hasil belajar pada murid untuk itu Kemendikbud mengeluarkan kebijakan asas nasional yang dirancang tidak hanya sebagai pengganti ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional tetapi sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan perubahan mendasar assessment nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian murid secara individu akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input proses dan hasil pelayanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil assessment nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia Nasional terdiri dari tiga bagian yaitu pertama asesmen kompetensi minimum atau akan kedua yaitu survei karakter dan yang ketiga adalah survei lingkungan belajar kompetensi minimum atau dirancang untuk Yaitu literasi dan numerasi kedua aspek kompetensi minimum ini menjadi syarat bagi murid untuk berkontribusi di dalam masyarakat terlepas dari bidang kerja dan karir yang ingin mereka tekuni di masa depan Asesmen kompetensi minimum atau ATM kedua yaitu survei karakter dan yang ketiga adalah survei lingkungan belajar kompetensi minimum atau dirancang untuk mengukur capaian murid dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi kedua aspek kompetensi minimum ini menjadi syarat bagi murid untuk berkontribusi di dalam masyarakat terlepas dari bidang kerja dan karir yang ingin mereka tekuni di masa depan fokus kepada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran karena justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lainnya terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan dalam bentuk angka atau secara kuantitatif terjadinya kemampuan literasi dan numerasi adalah kemampuan yang akan berdampak kepada semua mata pelajaran yang di ajarkan kan dan dipelajari oleh murid-murid kita bagian kedua dari asas nasional adalah survei karakter yang dirancang untuk mengukur pencapaian murid dari hasil belajar sosial emosional berupa pilar karakter untuk mencetak profil pelajar Pancasila dengan 6 indikator utama yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia kedua kebhinekaan Global ketiga kemandirian keempat gotong royong kelima bernalar kritis dan yang ke-6 kreativitas bagian ketiga dari Sas nasional adalah survei lingkungan belajar untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah nasional pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar desain dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah maupun murid Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan dengan cara menyediakan laporan hasil Semen yang menjelaskan profil kekuatan dan Arya perbaikan setiap sekolah dan daerah sehingga sangat penting dipahami terutama oleh guru kepala sekolah murid dan orang tua bahwa asesmen nasional untuk 2021 tidak memerlukan persiapan persiapan khusus maupun tambahan yang justru akan menjadi beban psikologis tersebut tidak usah cemas tidak perlu bimbel khusus untuk asas nasional untuk itu Mari kita semua bersama-sama mendukung pelaksanaan asesmen Nasional mulai tahun 2021 sebagai bagian dari reformasi pendidikan Indonesia terima kasih dan salam Merdeka belajar. Apa Pentingnya Asesmen Nasional? Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum Apa Pentingnya Asesmen Nasional? IN PROGRESS Pada aktivitas sebelumnya, telah dijelaskan bahwa Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pertanyaannya, mutu pendidikan seperti apa yang diharapkan? Apakah mutu pendidikan dapat dilihat dari hasil Ujian Nasional saja seperti yang selama ini terjadi? Peningkatan mutu sistem pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian siswa dalam menguasai materi pelajaran dan nilai ujian akhir, apapun sebutannya. Keberhasilan sistem pendidikan lebih difokuskan pada pencapaian kompetensi siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Terlebih pada era transformasi pendidikan abad ke-21, dimana arus perubahan menuntut siswa menguasai berbagai kecakapan hidup yang esensial untuk menghadapi berbagai tantangan abad ke-21 dimana siswa memiliki kecakapan belajar dan berinovasi, kecakapan menggunakan teknologi informasi, kecakapan hidup untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat. Pertanyaannya, bagaimana cara mengukur kompetensi tersebut? Ya, menggunakan Asesmen Nasional. Asesmen Nasional diberlakukan sebagai alat ukur untuk mengetahui ketercapaian kompetensi yang harus dikuasai siswa. Asesmen Nasional tidak hanya memotret hasil belajar kognitif siswa, sebagaimana yang terjadi dalam Ujian Nasional namun juga memotret hasil belajar sosial emosional. Termasuk di dalamnya sikap, nilai, keyakinan, serta perilaku yang dapat memprediksi tindakan dan kinerja siswa di berbagai konteks yang relevan. Selain tuntutan kecakapan abad 21, profil pelajar Pancasila juga menjadi rujukan pencapaian karakter bagi seluruh siswa di Indonesia. Bahkan profil pelajar pancasila ini sudah merangkum serangkaian kecakapan hidup abad 21. Karakter pelajar Pancasila yang ingin dicapai oleh siswa yaitu: Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Berkebhinekaan global Mandiri Bernalar kritis Kreatif Gotong royong Silakan membaca penjelasan lebih rinci mengenai profil pelajar Pancasila melalui tautan berikut ini Profil Pelajar Pancasila Untuk itu, penting bagi guru dan siswa untuk mengadopsi proses pembelajaran yang berfokus pada pengembangan kompetensi. Pencapaian kompetensi siswa dapat diukur dari pemahaman konsep, dan keterampilan menerapkan konsep dalam berbagai konteks. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai konten semata, tetapi lebih menguasai pemahaman secara mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di berbagai konteks kehidupan. Hal ini yang diharapkan sebagai peningkatan hasil pembelajaran siswa. Capaian kompetensi siswa secara holistik inilah yang ingin dievaluasi melalui Asesmen Nasional. Bagaimana keterkaitan Asesmen Nasional dengan kecakapan abad 21 dan profil pelajar Pancasila? Simak penjelasannya pada materi yang telah disediakan berikut ini. Refleksi Orientasi Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum Refleksi Orientasi IN PROGRESS Aktivitas sebelumnya merupakan aktivitas terakhir pada tahapan orientasi ini. Selamat! Itu artinya, Anda telah mempelajari seluruh materi pada topik orientasi program. Sebelum melanjutkan ke tahapan Bimtek, mari merefleksikan apa yang telah Anda pelajari. Terima kasih! Anda telah berkomitmen menyelesaikan topik ini hingga selesai. Setelah ini, Anda dapat melanjutkan proses belajar ke tahap berikutnya, yaitu Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum sesuai dengan jenjang pendidikan yang Bapak dan Ibu ampu. Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum IN PROGRESS Selamat datang dan selamat bergabung dalam Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Semoga Anda telah dalam keadaan siap untuk mengikuti program ini! Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum terdiri dari 3 tahap, yaitu: Orientasi dan Bimtek, serta Pengimbasan. Saat ini, Anda berada pada tahap pertama, Orientasi. Pada tahap ini, peserta akan mendapatkan pemahaman terkait latar belakang, tujuan umum, kebijakan, dan alur Program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum. Program ini bertujuan untuk menjawab berbagai persoalan guru dalam menghadapi Asesmen Kompetensi Minimum, diantaranya: 1. Berkembangnya miskonsepsi tentang asesmen nasional 2. Adanya malpraktik pembelajaran dalam melakukan persiapan menghadapi asesmen nasional 3. Guru belum mengetahui cara membaca hasil asesmen nasional 4. Guru belum memahami bagaimana menindaklanjuti hasil asesmen nasional Anda akan melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran secara mandiri melalui program pembelajaran otomatisasi dengan alokasi waktu selama 32 jam pertemuan yang dapat Anda atur secara fleksibel. Program Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum disusun dengan memadukan tahapan dan pendekatan modular yang memfasilitasi peserta melakukan personalisasi pembelajaran. Selain itu, program ini dapat mendorong guru untuk saling belajar dengan guru yang lain dalam hal berbagi praktik baik pembelajaran. Selamat belajar! Latar Belakang dan Kebijakan Asesmen Nasional Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum Latar Belakang dan Kebijakan Asesmen Nasional Hasil PISA membuktikan kemampuan belajar siswa pada pendidikan dasar dan menengah kurang memadai. Pada tahun 2018, sekitar 70% siswa memiliki kompetensi literasi membaca di bawah minimum. Sama halnya dengan keterampilan matematika dan sains, 71% siswa berada di bawah kompetensi minimum untuk matematika dan 60% siswa di bawah kompetensi minimum untuk keterampilan sains. Skor PISA Indonesia stagnan dalam 10-15 tahun terakhir. Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang konsisten dengan peringkat hasil PISA yang terendah. Bagaimana pendapat Anda? Menanggapi kondisi tersebut, reformasi asesmen diperlukan guna mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Pemetaan mutu pendidikan secara menyeluruh dibutuhkan. Untuk itu pada tahun 2021 mendatang, Asesmen Nasional (AN) akan resmi diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Ujian Nasional (UN) sudah tidak lagi diberlakukan. Kebijakan ini ditetapkan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sejumlah dinas dan lembaga terkait. Dalam hal ini, AN diterapkan untuk mengevaluasi kinerja dan mutu sistem pendidikan. Nantinya, hasil Asesmen Nasional tidak memiliki konsekuensi apapun pada pencapaian proses belajar siswa namun memberikan umpan balik untuk tindak lanjut pembelajaran dan kompetensi siswa. Kebijakan terkait penerapan Asesmen Nasional (AN) ini telah disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Anda dapat mendengarkan penjelasannya lebih detail dengan menyaksikan video yang disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Silakan cermati dengan seksama dan mencatat poin penting yang Anda peroleh. https://youtu.be/MAADQBghcqQ Salam sejahtera bagi kita semua swastiastu namo buddhaya salam kebajikan yang saya hormati Bapak Ibu yang hadir pada acara ketua hari ini Semoga semua diberikan berkah keselamatan dan kesehatan peningkatan sistem evaluasi pendidikan adalah bagian dari kebijakan Merdeka belajar yang didukung penuh oleh Presiden Jokowi dengan tujuan utama mendorong mutu pembelajaran dan hasil belajar pada murid untuk itu Kemendikbud mengeluarkan kebijakan asesmen nasional yang dirancang tidak hanya sebagai pengganti ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional tetapi sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan perubahan mendasar assessment nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian murid secara individu akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input proses dan hasil pelayanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil asesmen nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia Nasional terdiri dari tiga bagian yaitu pertama asesmen kompetensi minimum atau akan kedua yaitu survei karakter dan yang ketiga adalah survei lingkungan belajar dan kompetensi minimum atau akan dirancang untuk mengukur capaian murid dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi Sebelum memulai proses belajar, Anda diharapkan mengisi Asesmen Pra Program yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal Anda. Untuk itu, Anda diminta menjawab sesuai dengan kemampuan Anda. Anda akan diberikan soal-soal pilihan ganda yang terdiri atas 30 soal. Silakan memilih jawaban menurut Anda paling tepat. Bagaimana jika hasil asesmen pra kurang maksimal? Tidak perlu khawatir bila mendapat hasil yang kurang memuaskan. Pada akhir program, Anda akan mengisi kembali kuis ini pada aktivitas Asesmen Pasca Program. Anda dapat membandingkan hasil yang diperoleh antara asesmen pra dengan asesmen pasca. Dengan demikian, Anda dapat mengukur perkembangan proses belajar secara mandiri. Sudah siap? Mari, kita mulai! Quiz 1. Pernyataan yang benar mengenai Asesmen Nasional yaitu…. Digunakan sebagai dasar perbaikan kualitas pembelajaran Digunakan sebagai penilaian untuk penentuan nilai individu Diberikan di akhir jenjang sebagai penentuan kelulusan siswa Diberikan untuk menilai prestasi pendidikan setiap daerah 2. Dalam Asesmen Nasional pemetaan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah dilakukan melalui…. Survei karakter Survei lingkungan belajar Asesmen Kompetensi Minimum Survei kualitas sekolah 3. Salah satu instrumen Asesmen Nasional adalah survei karakter. Dalam pelaksanaannya survei karakter memiliki tujuan utama yaitu…. Mengukur kualitas pembelajaran dan iklim di sekolah yang menunjang pembelajaran siswa Mengukur hasil belajar non kognitif menyangkut sikap, kebiasaan, dan nilai-nilai pancasila Mengukur hasil belajar secara kognitif melalui kompetensi dasar literasi membaca dan numerasi Mengukur kemampuan akademik siswa dilihat dari nilai akhir siswa sebagai penentu kualitas sekolah 4. Perbedaan Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional adalah…. Ujian Nasional dilakukan pada siswa kelas V, VII, dan XI sedangkan Asesmen Nasional untuk tingkat akhir Ujian Nasional dilakukan selama 1 minggu sedangkan Asesmen Nasional dilakukan selama 4 hari Ujian Nasional dilakukan pada semua siswa sedangkan Asesmen Nasional pada siswa sampel Ujian Nasional dilakukan secara daring, luring, dan blended sedangkan Asesmen Nasional dilakukan secara daring 5. Pernyataan yang tepat mengenai ragam butir soal yang digunakan dalam Asesmen Kompetensi Minimum yaitu…. Jumlah butir soal yang diujikan pada semua setiap jenjang sama yaitu sejumlah 30 soal Semua siswa pada setiap jenjang pendidikan akan mengerjakan soal dengan tingkat kesulitan sama Soal asesmen terdiri atas pilihan ganda, menjodohkan, isian singkat, dan uraian Kompetensi mendasar yang dipelajari setiap siswa berbeda sesuai dengan peminatannya 6. Dalam pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), konten dalam literasi membaca mencakup…. Teks informasi dan teks fiksi Teks prosedur dan teks prosedur kompleks Teks observasi dan teks deskripsi Teks wacana dan teks argumentasi 7. Kompetensi minimum yang dimaksudkan dalam AKM adalah…. Kompetensi dasar siswa untuk mempelajari materi apapun Kompetensi dasar yang harus dimiliki sekolah Kompetensi matematika dan Bahasa Indonesia siswa Kompetensi minimal setara yang harus dimiliki siswa 8. Asesmen Kompetensi Minimum dan Ujian Nasional memiliki beberapa perbedaan termasuk dalam konteks soal. Dari pernyataan berikut manakah yang menunjukkan ciri-ciri soal Asesmen Kompetensi Minimum? Konteks masalah yang diberikan bersifat rutin dan sederhana Soal bersifat relevan dengan dunia nyata dan aplikatif Soal mengacu pada penyelesaian sesuai konsep yang dipelajari Dalam soal teks yang disajikan pendek namun kurang mendalam 9. Manakah dalam pernyataan berikut yang merupakan kelebihan dari Asesmen Kompetensi Minimum dibandingkan dengan soal Ujian Nasional? Mutu pendidikan diukur dari penilaian konten yang esensial pada mata pelajaran tertentu Penentuan dan pemetaan kemampuan siswa untuk dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya Kemampuan kognitif menjadi hal utama sehingga lebih menekankan pada penguasaan materi Menekankan pada penguasaan kompetensi, dan penerapannya dalam berbagai konteks kehidupan 10. Dari yang sudah dipelajari mengenai Asesmen Kompetensi Minimum maka dapat disimpulkan bahwa…. Asesmen Kompetensi Minimum akan mempengaruhi penyelenggaraan kegiatan kelulusan siswa Dengan Asesmen Kompetensi Minimum sekolah tidak lagi melaksanakan Ujian Sekolah (US) Hasil Asesmen Kompetensi Minimum untuk mengevaluasi di berbagai aspek pembelajaran Asesmen Kompetensi Minimum dilakukan juga untuk mengukur penguasaan siswa terhadap konten 11. Guru Rani memberikan pembelajaran mengenai pola pada barisan bilangan dan konfigurasi objek hal ini merupakan konten pembelajaran…. Bilangan Pengukuran dan geometri Aljabar Data dan ketidakpastian 12. Asesmen numerasi untuk tingkat SMP, terdapat berapa level pembelajaran…. 1 level pembelajaran 2 level pembelajaran 3 level pembelajaran 4 level pembelajaran 13. Guru Sandi memberikan sebuah bacaan sastra, kemudian Guru Sandi meminta siswanya untuk menganalisis perubahan pada kejadian, karakter, setting, alur cerita serta konflik yang terjadi. Hal yang dilakukan oleh Guru Sandi merupakan bagian dari tingkat kognitif dalam asesmen literasi yaitu…. Menemukan informasi Memahami informasi Mengevaluasi dan merefleksi Menyusun inferensi 14. Guru Ratna memberikan sebuah teks informasi kepada siswanya kemudian Guru Sandi meminta siswanya menjelaskan ide pokok dan beberapa ide pendukung pada teks informasi, hal yang dilakukan Guru Ratna termasuk dalam kegiatan kognitif literasi yaitu…. Menemukan informasi Memahami informasi Mengevaluasi dan merefleksi Menilai kualitas dan kredibilitas informasi 15. Guru Reza meminta siswanya untuk menilai kesesuaian pemilihan warna, tata letak, dan pendukung visual yang digunakan oleh penulis dalam menyampaikan pesan. Dalam asesmen literasi hal yang dilakukan oleh guru Reza merupakan tingkat kognitif literasi yaitu…. Menemukan informasi Memahami informasi Menyusun inferensi Mengevaluasi dan merefleksi 16. Asesmen literasi untuk tingkat SMP akan diujikan…. 1 level pembelajaran 2 level pembelajaran 3 level pembelajaran 4 level pembelajaran 17. Manakah diantara kegiatan numerasi berikut yang termasuk dalam konten aljabar? Memahami pola pada barisan bilangan dan konfigurasi objek Menghitung volume bangun ruang dan luas permukaan Memahami bilangan cacah maksimal 6 angka Menentukan dan menggunakan mean, median, modus 18. Manakah di antara materi berikut ini yang menunjukkan hubungan antara numerasi dengan mata pelajaran IPA SMP/MTS? Menghitung persentase pajak Menghitung luas segitiga dan lingkaran Mengurutkan bilangan cacah Membandingkan berat berbagai benda 19. Perbedaan asesmen literasi SMP antara level 1 dan 2 yaitu…. Memiliki proses kognitif yang sama namun tingkat kesulitan berbeda sesuai dengan jenjangnya Memiliki konten yang sama namun proses kognitif yang berbeda sesuai dengan jenjangnya Memiliki konten dan proses kognitif yang sama, hanya konteks yang berbeda Memiliki proses kognitif, konten literasi, dengan kesulitan yang sama untuk setiap jenjangnya 20. Bagaimana keterkaitan antara Asesmen Kompetensi Minimum dengan kecakapan abad 21 yang harus dimiliki oleh siswa pada jenjang SMP/MTS? Mengharuskan siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang pembelajaran Mendorong siswa berpikir kritis untuk penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari Mendorong siswa untuk memperoleh prestasi yang baik untuk melanjutkan pada jenjang berikutnya Memastikan semua siswa memiliki pengetahuan sesuai standar yang harus dimiliki oleh siswa SMP 21. Salah satu ciri pembelajaran berbasis kompetensi adalah…. Berpusat pada materi pembelajaran Belajar untuk cakupan materi Belajar untuk pemahaman konsep dan keterampilan Berorientasi pada nilai akhir 22. Berikut adalah beberapa pernyataan mengenai pembelajaran berbasis konten dan pembelajaran berbasis kompetensi: Menunjukkan kinerja dengan menerapkan konsep Pembelajaran terkait dengan konteks kehidupan nyata siswa Belajar untuk cakupan materi yang harus dikuasai Berorientasi pada konteks dan penguasaan kompetensi Berorientasi pada nilai akhir Menjawab serangkaian pertanyaan topik berdasarkan teks Manakah pernyataan yang menunjukkan pembelajaran berbasis konten? 1), 3), 5) 2), 4), 5) 3), 5), 6) 1), 4), 6) 23. Dari hasil AKM ditemukan bahwa siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam konteks yang lebih beragam maka siswa tersebut dapat dikategorikan dalam kelompok…. Perlu intervensi khusus Dasar Cakap Mahir 24. Guru Cleo memberikan soal teks dan ditemukan siswa mampu mengintegrasikan beberapa informasi teks pada bacaan yang berbeda maka siswa tersebut dapat dikategorikan dalam kelompok…. Perlu intervensi khusus Dasar Cakap Mahir 25. Bagaimana keterkaitan antara Asesmen Kompetensi Minimum dengan standar kurikulum secara keseluruhan? Asesmen Kompetensi Minimum terikat secara erat dengan konten kurikulum Asesmen Kompetensi Minimum mengukur penguasaan siswa atas konten kurikulum secara keseluruhan Asesmen Kompetensi Minimum memperhatikan apa yang seharusnya diajarkan oleh guru pada tiap kelas Asesmen Kompetensi Minimum terlepas dari keseluruhan kurikulum sekolah 26. Soal dalam asesmen literasi menggunakan proses kognitif yang lebih baik dibandingkan Ujian Nasional karena terdapat proses baru yaitu…. Mencari, mengakses, serta menemukan informasi dari bacaan Memahami informasi tersirat maupun tersurat dari bacaan Memadukan interpretasi (pemahaman) pada bagian teks untuk menghasilkan kesimpulan Mengevaluasi dan merefleksikan isi teks dengan hal lain diluar teks maupun pengalamannya 27. Bagaimana hasil Asesmen Kompetensi Minimum (literasi dan numerasi) dapat digunakan untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas terhadap pembelajaran lain? Menyesuaikan pembelajarannya sesuai tingkat kompetensi siswa Melakukan penilaian mandiri untuk mata pelajaran lain Menyusun pembelajaran sesuai konten materi pada asesmen Menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat kompetensi terendah siswa 28. Dalam asesmen numerasi siswa dituntut untuk bernalar menggunakan konsep matematika dan memberikan solusi yang lebih aplikatif sehingga soal yang diberikan akan mendorong siswa untuk…. Menyelesaikan soal sesuai konsep matematika Mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari Memahami data dalam bentuk tabel maupun grafik Memahami fakta, prosedur, serta alat matematika 29. Apa tindak lanjut yang dapat diambil oleh sekolah terkait hasil AKM? Memetakan pencapaian siswa dalam AKM yang dapat digunakan untuk seleksi masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi Menyusun dan melaksanakan program pengayaan untuk mendorong prestasi belajar siswa lebih baik lagi Mendorong siswa untuk mendapatkan skor tinggi dan mengesampingkan pelajaran yang tidak relevan dengan AKM Merefleksi hasil AKM dalam pembelajaran sehingga guru-guru dapat membangun kompetensi serta karakter siswa 30. Bagaimana keterkaitan antara pelaksanaan AKM dan tantangan pembelajaran berbasis kompetensi yang dihadapi guru? Pelaporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum dirancang untuk memberikan informasi mengenai tingkat kompetensi siswa pada kompetensi dasar literasi membaca dan numerasi Pelaporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum berupa nilai yang sejalan dengan karakteristik utama dari pembelajaran berbasis kompetensi yang berfokus capaian hasil akhir berupa nilai Pelaporan Asesmen Kompetensi Minimum akan membantu guru mempersiapkan materi pembelajaran untuk digunakan oleh siswa sesuai dengan pembelajaran berbasis kompetensi Pelaporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum akan memberikan standar penguasaan yang harus dimiliki oleh siswa sehingga semua siswa akan mencapai level mahir bersamaan Pengantar Pada topik ini, Anda akan lebih jauh mengenal dan memahami mengenai Asesmen Nasional. Melalui penjelasan pada fase orientasi, apa yang dapat Anda simpulkan mengenai Asesmen Nasional? Ya, benar. Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar siswa yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur kompetensi mendasar literasi membaca dan numerasi siswa. Survei Karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter siswa Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah. Seiring disosialisasikannya Asesmen Nasional, telah banyak respons yang disampaikan terkait konsep dan pelaksanaannya. Siswa, orangtua, guru, bahkan kepala sekolah mulai gelisah terkait penghapusan Ujian Nasional dan pemberlakuan Asesmen Nasional. Untuk menghindari hal itu, pemahaman yang utuh dan menyeluruh mengenai Asesmen Nasional pun perlu terus disebarluaskan. Apakah Anda sependapat? Sekarang, Anda dapat melanjutkan ke aktivitas berikutnya untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh. Tandai selesai lalu lanjutkan. Tujuan dan Manfaat Asesmen Nasional Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Konsep Asesmen Nasional Tujuan dan Manfaat Asesmen Nasional IN PROGRESS Perubahan sistem evaluasi dari Ujian Nasional ke Asesmen Nasional merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh. Asesmen Nasional dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar siswa. Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau: (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu). Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter siswa. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut. Hal ini diharapkan dapat mendorong sekolah dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran. Maka dari itu, hasil Asesmen Nasional sendiri diharapkan mampu memberikan manfaat, bukan sekedar nilai belaka. Pada tahun 2021, Mendikbud telah menyatakan bahwa hasil Asesmen Nasional dimaksudkan sebagai peta awal mutu sistem pendidikan secara nasional. Asesmen Nasional tidak akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja sekolah maupun daerah. Berikut infografis yang menjelaskan manfaat asesmen nasional. Kaitannya dengan infografis tersebut, secara jangka panjang Asesmen Nasional memberi kesempatan sekaligus menuntut guru dan sekolah untuk memperbaiki kualitas pengajarannya guna menciptakan siswa yang lebih kompeten. Hal ini terlihat dari penekanan pembelajaran dan asesmen yang lebih fokus pada daya nalar dalam bentuk literasi membaca dan numerasi. Hal ini juga mendorong guru dan sekolah mengubah praktik-praktik pembelajaran lama yang tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini. Bagaimana contohnya? Misalnya, guru ingin mengembangkan keterampilan literasi pada siswa. Dalam hal ini, guru perlu memotivasi siswa untuk membaca tidak hanya dari buku teks, tetapi bisa dari berbagai sumber. Guru juga perlu mengajak siswa berdiskusi dan mengevaluasi informasi yang dibaca, tidak sekedar meringkas dan mengulang kembali. Bagaimana dengan keterampilan numerasi? Pada keterampilan numerasi, guru perlu memastikan siswa memiliki intuisi angka (number sense) dan pemahaman aritmatika dasar sejak dini. Guru juga perlu memandu siswa memecahkan masalah terkait numerasi yang terjadi dalam konteks kehidupannya. Hal ini disebabkan masalah yang menuntut diskusi dan penalaran tidak dapat dipecahkan hanya dengan menghafal rumus semata. Sekarang, Anda dapat melanjutkan ke aktivitas berikutnya untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh. Tandai selesai lalu lanjutkan. Evaluasi Ujian Nasional Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Konsep Asesmen Nasional Evaluasi Ujian Nasional IN PROGRESS Berdasarkan penjelasan pada aktivitas sebelumnya, Bapak dan Ibu telah membandingkan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Kebijakan pelaksanaan Asesmen Nasional juga berangkat dari evaluasi yang dilakukan terhadap Ujian Nasional yang telah berlangsung selama ini. Ujian Nasional menjadi lebih berorientasi pada pencapaian hasil belajar individu dan pembelajaran yang berorientasi pada ujian. Sasaran kompetensi yang diharapkan sebagai perbaikan mutu pendidikan sendiri seringkali terabaikan. Selain itu, beberapa poin evaluasi berikut ini juga menjadi pertimbangan untuk menghentikan pelaksanaan Ujian Nasional dan menetapkan penyelenggaraan Asesmen Nasional. Pertama, Butir-butir soal UN hanya mengukur kemampuan kognitif siswa, sehingga input dan proses pembelajaran kurang dapat tergambarkan dengan baik. Hal ini belum sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kompetensi lain yang relevan dengan Abad 21, sebagaimana tercermin pada Kurikulum 2013. Harapan untuk mengevaluasi keterampilan siswa dalam menerapkan pengetahuan serta konsep melalui berbagai konteks kehidupan, serta menunjukan karakter sebagaimana yang diharapkan dalam profil pelajar pancasila belum lengkap dilakukan melalui UN saja. Kedua, UN kurang dapat dimanfaatkan guru untuk memperbaiki pembelajaran pada subjek siswa yang sama. Asesmen Nasional dirancang untuk memberi dorongan lebih kuat ke arah pengajaran yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan kompetensi, termasuk di dalamnya kemampuan bernalar. Ketiga, UN kurang optimal sebagai alat untuk mengevaluasi mutu pendidikan secara nasional. Hal ini disebabkan UN diterapkan di akhir jenjang pendidikan lebih sebagai assessment of learning yang mengukur capaian akhir, bukan sebagai sebagai assessment for learning, yang mengukur proses pembelajaran. Hasil UN tidak bisa digunakan untuk mengakomodir kebutuhan belajar yang diperlukan siswa. Pemberlakuan Asesmen Nasional ini merupakan sinyalemen yang kuat dari pemerintah untuk terus memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Dan dari ketiga poin tersebut, maka sesungguhnya yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi Asesmen Nasional adalah pemahaman mengenai tujuan dan manfaat Asesmen Nasional, serta implikasinya pada perubahan praktik dan strategi pembelajaran di kelas. Siswa, guru, orangtua, kepala satuan pendidikan tidak lagi direkomendasikan untuk berlatih soal-soal persiapan AKM sebagaimana penilaian yang berbasis ujian. Silakan membaca penjelasan lengkap pada tautan berikut ini Tanya Jawab Ujian Nasional Isinya: Daftar Tanya Jawab Kebijakan Ujian Nasional (UN) Apa kebijakan baru tentang UN? Jawab: Mulai tahun 2021 UN akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Kedua asesmen baru ini dirancang khusus untuk fungsi pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan secara nasional. Mengapa 2020 akan menjadi tahun terakhir bagi UN? Jawab: Pertama, UN lebih banyak berisi butir-butir yang mengukur kompetensi berpikir tingkat rendah. Hal ini tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kompetensi lain yang lebih relevan dengan Abad 21, sebagaimana tercermin pada Kurikulum 2013. Kedua, UN kurang mendorong guru menggunakan metode pengajaran yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Asesmen kompetensi pengganti UN akan dirancang memberi dorongan lebih kuat ke arah pengajaran yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan penalaran, bukan hafalan. Ketiga, UN kurang optimal sebagai alat untuk memperbaiki mutu pendidikan secara nasional. Karena dilangsungkan di akhir jenjang, hasil UN tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dan memberi bantuan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Apa akan mengganti UN? Jawab: Asesmen kompetensi pengganti UN mengukur kompetensi bernalar yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah di berbagai konteks, baik personal maupun profesional (pekerjaan). Saat ini kompetensi apa saja yang akan diukur masih dikaji, namun contohnya adalah kompetensi bernalar tentang teks (literasi) dan angka (numerasi). Selain itu, Kemdikbud juga akan melakukan survei untuk mengukur aspek-aspek lain yang mencerminkan penerapan Pancasila di sekolah. Hal ini mencakup aspek-aspek karakter siswa (seperti karakter pembelajar dan karakter gotong royong) dan iklim sekolah (misalnya iklim kebinekaan, perilaku bullying, dan kualitas pembelajaran). Karena fungsi utamanya adalah sebagai alat pemetaan mutu, asesmen kompetensi dan survei pembinaan Pancasila ini belum tentu dilaksanakan setiap tahun, dan belum tentu harus diikuti oleh semua siswa. Tanpa UN, bukankah siswa kurang termotivasi untuk belajar? Jawab: Menggunakan ancaman ujian untuk mendorong belajar akan berdampak negatif pada karakter siswa. Jika dilakukan terus menerus, siswa justru akan menjadi malas belajar jika tidak ada ujian. Dengan kata lain, siswa menjadi terbiasa belajar sekedar untuk mendapat nilai baik dan menghidari nilai jelek. Hal ini membuat siswa lupa akan kenikmatan intrinsik yang bisa diperoleh dari proses belajar itu sendiri. Padahal, motivasi belajar intrinsik inilah yang justru sangat perlu dikembangkan agar siswa agar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tanpa UN, apakah siswa tidak menjadi orang yang kurang gigih? Jawab: UN adalah alat untuk melakukan monitoring dan evaluasi mutu sistem pendidikan. Fungsi UN bukan untuk melatih keuletan atau kegigihan. Sifat-sifat ini tidak dapat dibentuk secara instan di akhir jenjang pendidikan melalui ancaman ketidaklulusan atau nilai buruk. Sifat seperti kegigihan hanya dapat ditumbuhkan melalui proses belajar yang memberi berbagai tantangan bermakna secara berkelanjutan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membuat sifat seperti kegigihan menjadi bagian dari karakter siswa. Mengapa hanya difokuskan pada literasi dan numerasi? Jawab: Literasi dan numerasi adalah kompetensi yang sifatnya general dan mendasar. Kemampuan berpikir tentang, dan dengan, bahasa serta matematika diperlukan dalam berbagai konteks, baik personal, sosial, maupun profesional. Dengan mengukur kompetensi yang bersifat mendasar (bukan konten kurikulum atau pelajaran), pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa guru diharapkan berinovasi mengembangkan kompetensi siswa melalui berbagai pelajaran melalui pengajaran yang berpusat pada siswa. Apakah berarti pelajaran selain bahasa dan matematika tidak penting? Jawab: Fokus asesmen adalah kompetensi berpikir, sehingga hasil pengukuran tidak sekedar mencerminkan prestasi akademik pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika saja. Literasi dan numerasi justru bisa dan seharusnya memang dikembangkan melalui berbagai mata pelajaran, termasuk IPA, IPS, kewarganegaraan, agama, seni, dst. Pesan ini penting dipahami oleh guru, sekolah, dan siswa untuk meminimalkan risiko penyempitan kurikulum pada pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Jika apa yang diukur tidak terikat pada konten kurikulum, bagaimana kaitan antara asesmen ini dengan standar pendidikan? Jawab: Betul bahwa asesmen ini tidak terikat secara erat dengan konten kurikulum. Namun tidak berarti bahwa asesmen ini sama sekali terlepas dari kurikulum. Dari sisi konten, asesmen literasi dan numerasi tentu memperhatikan apa yang (seharusnya) diajarkan oelh guru pada tiap kelas dan jenjang pendidikan. Hanya saja, asesmen ini tidak dimaksudkan untuk mengukur penguasaan siswa atas konten kurikulum secara keseluruhan. Pada prinsipnya, penguasaan kurikulum secara utuh hanya bisa dinilai oleh guru menggunakan sumber informasi yang beragam dari interaksi sehari-hari dengan siswa. Terlebih lagi, kurikulum tiap sekolah bisa berbeda karena masing-masing memiliki kewenangan untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan visi dan karakteristik siswanya. Siapa yang akan menjadi peserta asesmen pengganti UN? Jawab: Asesmen kompetensi baru akan dilakukan pada siswa yang duduk di pertengahan jenjang sekolah, seperti kelas 4 untuk SD, kelas 8 untuk SMP, dan kelas 11 untuk SMA. Dengan dilakukan pada tengah jenjang, hasil asesmen bisa dimanfaatkan sekolah untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa. Dengan dilakukan sejak jenjang SD, hasilnya dapat menjadi deteksi dini bagi permasalahaan mutu pendidikan nasional. Apakah perubahan ini berdampak pada siswa SD? Jawab: Perlu diketahui bahwa saat ini pun tidak ada UN pada jenjang SD. Dengan demikian, penghentian UN tidak berdampak pada siswa SD. Seperti yang dipaparkan pada poin sebelumnya, sebagian siswa SD akan mengikuti asesmen kompetensi baru. Namun asesmen baru ini dirancang agar tidak memiliki konsekuensi bagi siswa. Karena itu, asesmen baru tidak menjadi beban tambahan bagi siswa SD. Tanpa UN, bagaimana mengukur ketercapaian standar nasional pendidikan? Jawab: Perlu dipahami bahwa UN itu sendiri bukan merupakan standar. UN merupakan instrumen asesmen yang membantu menilai pencapaian sebagian standar nasional pendidikan. Karena itu, menghapus UN bukan berarti menghilangkan standar pendidikan. Sebagaimana disebutkan di atas, UN akan diganti dengan asesmen lain yang memang dirancang sebagai alat pemetaan mutu pendidikan nasional. Hasil asesmen pengganti UN tersebut akan menjadi indikator bagi ketercapaian standar nasional pendidikan di tiap daerah. Jika tidak terikat pada konten kurikulum, apakah asesmen ini akan menjadi tambahan beban bagi siswa/guru di luar kurikulum yang ada? Jawab: Asesmen yang dilakukan oleh otoritas (dalam hal ini Kemendikbud) berpotensi dipandang sebagai beban tambahan karena guru dan sekolah ingin memperoleh hasil yang baik. Meski demikian, sebenarnya asesmen literasi dan numerasi ini bukan beban tambahan. Yang diukur oleh asesmen ini bukanlah penguasaan konten tambahan yang perlu diajarkan di luar kurikulum yang ada. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kompetensi literasi dan numerasi bisa dan perlu dikembangkan melalui semua mata pelajaran. Jika digunakan untuk menilai efektivitas sekolah, apakah asesmen baru tidak berdampak negatif pada siswa? Jawab: Harus diakui bahwa asesmen baru dapat dianggap bersifat high stakes bagi guru dan sekolah. Jika itu terjadi, asesmen baru berpotensi memiliki dampak negatif seperti mendorong adanya tekanan dari guru pada siswa untuk mendapat skor tinggi, serta anggapan bahwa pelajaran yang dianggap tidak relevan untuk asesmen ini kurang penting. Dampak seperti ini akan dimitigasi melalui berbagai cara. Yang pertama adalah rancangan kebijakan yang menekankan pada pemberian dukungan dan sumberdaya sesuai kebutuhan sekolah, bukan hukuman dan hadiah. Kedua, akan tersedia asesmen yang sama dalam versi yang dapat digunakan oleh guru sebagai bagian dari pengajaran sehari-hari. Versi “asesmen mandiri” ini juga akan dilengkapi dengan petunjuk pedagogis dan sumberdaya belajar yang relevan untuk mengembangkan kompetensi siswa sesuai levelnya. Apa dampak asesmen baru bagi siswa? Jawab: Asesmen kompetensi pengganti UN akan dirancang agar tidak memiliki konsekuensi bagi siswa. Misalnya, pelaksanaan pada pertengahan jenjang (bukan akhir jenjang) membuat hasil asesmen kompetensi tidak relevan untuk menilai pencapaian siswa. Hasilnya juga tidak relevan untuk seleksi memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi. Dengan demikian, asesmen ini tidak akan menjadi beban tambahan bagi siswa, di luar beban belajar normal yang sudah dijalani. Apa dampak asesmen pada guru dan sekolah? Jawab: Analisis dan laporan hasil asesmen kompetensi akan dibuat agar bisa dimanfaatkan guru dan sekolah untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Hal ini dimungkinkan karena asesmen baru akan didasarkan pada model learning progression (lintasan belajar) yang akan menunjukkan posisi siswa dalam tahapan perkembangan suatu kompetensi. Laporan hasil asesmen juga akan dirancang agar tidak menjadi ancaman bagi guru dan sekolah. Pemerintah menyadari bahwa baik buruknya pencapaian siswa dipengaruhi oleh faktor pengajaran (proses di sekolah) maupun faktor-faktor di luar sekolah, seperti lingkungan rumah dan gaya pengasuhan orangtua. Karena itu keberhasilan guru atau sekolah tidak akan dinilai berdasarkan level kompetensi siswa di satu waktu. Keberhasilan guru/sekolah akan lebih didasarkan pada perubahan dan kemajuan yang dicapai dibanding waktu asesmen sebelumnya. Hasil asesmen justru akan digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah. Kemdikbud akan mengalokasikan dukungan – misalnya dalam bentuk alokasi SDM dan/atau dana – sesuai dengan kebutuhan tiap sekolah. Apa dasar hukum penggantian UN dengan asesmen baru? Jawab: UU Sisdiknas secara eksplisit memberi mandat kepada pemerintah – melalui lembaga mandiri – untuk melakukan evaluasi mutu sistem pendidikan nasional. Asesmen pengganti UN akan menjadi instrumen untuk melayani fungsi tersebut. Selain itu, pengadilan Negeri Jakarta pada 2007, dan kemudian Mahkamah Agung (MA) pada 2009, menilai bahwa UN tidak adil bagi siswa yang berada di sekolah dan/atau daerah yang kekurangan sumberdaya. MA memerintahkan pemerintah untuk “meninjau kembali sistem pendidikan nasional”. Dengan merancang asesmen baru yang berfungsi untuk pemetaan mutu serta umpan balik bagi sekolah, tanpa ada konsekuensi pada siswa, pemerintah secara otomatis telah mematuhi putusan hukum MA mengenai UN. Sekarang, Anda dapat melanjutkan ke aktivitas berikutnya untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh. Tandai selesai lalu lanjutkan. Membandingkan Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Konsep Asesmen Nasional Membandingkan Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional IN PROGRESS Beberapa pertanyaan yang seringkali muncul terkait penghapusan Ujian Nasional dan pemberlakuan Asesmen Nasional antara lain apakah Asesmen Nasional merupakan pengganti Ujian Nasional. Timbul pula kekhawatiran mengenai persiapan siswa, guru dan sekolah menghadapi Asesmen Nasional. Untuk mendapatkan informasi yang tepat, Anda perlu membandingkan beberapa hal penting mengenai Ujian Nasional dan Asesmen Nasional terlebih dahulu. Berikut terdapat informasi mengenai perbandingan Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional. Berikut penjelasan setiap poin pembeda AN dan UN: Tujuan penyelenggaraan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional tidak sama. Seperti yang telah dijelaskan pada topik dan aktivitas sebelumnya, Asesmen Nasional bertujuan untuk mengevaluasi mutu sistem pendidikan di Indonesia, sedangkan Ujian Nasional bertujuan untuk mengevaluasi capaian hasil belajar siswa secara individu. AN diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, dan pendidikan menengah atas. Ini termasuk MI, MTS dan MAN, serta program kesetaraan. Sementara UN berlaku mulai jenjang pendidikan menengah pertama dan atas saja. Asesmen Nasional tidak diselenggarakan pada akhir jenjang pendidikan sebagaimana Ujian Nasional, melainkan di tengah jenjang pendidikan. Yaitu pada kelas 5, 8, 11. Hal ini dilakukan untuk mendorong guru dan sekolah melakukan tindak lanjut perbaikan mutu pembelajaran setelah mendapatkan hasil laporan AN. Jadi bukan sekedar untuk mengetahui capaian hasil belajar siswa sebagai salah satu syarat kelulusan. Pada pelaksanaannya, Asesmen Nasional menggunakan metode survei. Metode survei dilakukan dengan mengambil sampel siswa diambil secara acak dari setiap sekolah. Berbanding terbalik dengan Ujian Nasional yang menggunakan metode sensus dimana semua siswa di seluruh Indonesia wajib mengikutinya. Model soal asesmen yang diberikan dalam AN lebih bervariasi bukan sekedar pilihan ganda dan uraian singkat sebagaimana yang diberikan dalam UN. Salah satu komponen hasil belajar murid yang diukur pada asesmen nasional adalah literasi membaca dan numerasi. Asesmen ini disebut sebagai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) karena mengukur kompetensi mendasar atau minimum yang diperlukan individu untuk dapat hidup secara produktif di masyarakat. Sementara Ujian Nasional berbasis mata pelajaran yang memotret hasil belajar murid pada mata pelajaran tertentu. Hal inilah yang terkadang memberi kesan mata pelajaran yang penting dan kurang penting dalam pendidikan. Dalam hal ini, AKM memotret kompetensi mendasar yang diperlukan untuk sukses pada berbagai mata pelajaran. Metode penilaian AN dan UN pun berbeda meskipun keduanya berbasis komputer. AN menggunakan metode penilaian Computerized Multistage Adaptive Testing (MSAT). MSAT ialah metode penilaian yang mengadopsi tes adaptif, dimana setiap siswa dapat melakukan tes sesuai level kompetensinya. . Bapak dan Ibu telah membandingkan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Sebagai tanggapan atas pemberlakuan Asesmen Nasional, berbagai respons pun muncul dari sejumlah pihak mengenai kebijakan ini. Apakah kebijakan ini hanya sekedar penggantian nama semata? Menurut Anda, apakah Asesmen Nasional merupakan pengganti Ujian Nasional? Benar. Asesmen Nasional bukan pengganti Ujian Nasional. Selain dari teknis pelaksanaannya, cakupan Asesmen Nasional berbeda jika dibandingkan dengan Ujian Nasional. Asesmen Nasional lebih memberikan gambaran yang lebih utuh dan luas mengenai mutu pendidikan, bukan hanya secara kognitif, namun juga karakter dan iklim belajar. Sekarang, Anda dapat melanjutkan ke aktivitas berikutnya untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh. Tandai selesai lalu lanjutkan. Kuis Konsep Asesmen Nasional Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum untuk Tingkat SMP Konsep Asesmen Nasional Kuis Konsep Asesmen Nasional Kuis Konsep Asesmen Nasional Bapak Ibu Guru telah menyelesaikan seluruh aktivitas pada topik konsep Asesmen Nasional. Setelah mempelajari konsep Asesmen Nasional secara menyeluruh, Bapak Ibu Guru dapat mengukur sejauh mana pemahaman dalam menguasai topik ini. Berikut terdapat beberapa pernyataan mengenai konsep Asesmen Nasional. Melalui setiap pernyataan tersebut, silahkan Anda cek kesesuaiannya dengan memilih benar atau salah. Quiz Asesmen Nasional tidak memiliki konsekuensi pada kelulusan siswa. Benar Salah Benar. Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan siswa. Hasil Asesmen Nasional tidak menghasilkan skor atau nilai siswa secara individual namun lebih berfokus pada capaian kompetensi dan pemetaan mutu satuan pendidikan Asesmen Nasional dapat dikatakan sebagai pengganti Ujian Nasional karena keduanya merupakan asesmen berskala nasional yang dibutuhkan siswa untuk menentukan kelulusan. Benar Salah Salah. Meskipun keduanya berskala nasional, namun Asesmen Nasional dan Ujian Nasional bukanlah hal yang sama terkait dengan tujuannya. Asesmen Nasional tidak dibutuhkan oleh siswa sebagai syarat kelulusan namun untuk mengevaluasi dan memetakan mutu pada tiap satuan pendidikan. Asesmen Nasional menekankan pada penguasaan kompetensi siswa, sedangkan Ujian Nasional menekankan pada penguasaan konten pembelajaran siswa. Benar Salah Benar. Asesmen Nasional menekankan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter siswa. Untuk itu ada tiga instrumen yang digunakan, sementara Ujian nasional hanya menggunakan satu instrumen yang terfokus pada penilaian berbasis konten yang mengukur aspek kognitif saja. Asesmen Nasional lebih menekankan aspek kognitif yang dilihat melalui asesmen kompetensi mendasar literasi membaca dan numerasi. Benar Salah Salah. Tidak hanya mengevaluasi aspek kognitif siswa, Asesmen Nasional juga mengevaluasi mutu satuan pendidikan berdasarkan kompetensi siswa yang mendasar yaitu literasi, numerasi, dan karakter serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Pada pelaksanaannya, Asesmen Nasional menggunakan metode sensus sedangkan Ujian Nasional menggunakan metode survei. Benar Salah Salah. Asesmen Nasional menggunakan metode survei. Metode survei dilakukan dengan mengambil sampel siswa secara acak dari setiap sekolah. Berbanding terbalik dengan Ujian Nasional yang menggunakan metode sensus dimana semua siswa di seluruh Indonesia wajib mengikutinya. Sekolah A mempersiapkan siswanya untuk siap mengikuti Asesmen Nasional dengan melakukan perubahan strategi pembelajaran literasi membaca dan numerasi, sehingga mampu melakukan penalaran terkait berbagai mata pelajaran. Benar Salah Benar. Persiapan yang diperlukan untuk mempersiapkan AN adalah perubahan strategi pembelajaran yang lebih berfokus pada pengembangan kompetensi. Persiapan melalui bimbel atau latihan-latihan soal tidak diperlukan karena tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan nilai capaian namun gambaran kompetensi murid yang aktual. Siswa Pak Budi beranggapan bahwa dengan dihapuskannya UN maka siswanya tidak akan semangat belajar karena kurangnya motivasi untuk mencapai nilai tertinggi. Benar Salah Salah. Dihentikannya UN dan diberlakukannya AN, justru mengubah pembelajaran yang berbasis konten, dan berorientasi pada ujian, menjadi pembelajaran yang berbasis kompetensi, yang lebih relevan dengan konteks kehidupan siswa. Asesmen Nasional bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan bukan mengevaluasi hasil belajar siswa. Benar Salah Benar. Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu satuan pendidikan. Asesmen Nasional tidak memiliki konsekuensi terhadap kelulusan. Hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai siswa secara individual. Melihat dari tujuan, manfaat, dan teknis pelaksanaannya, Asesmen Nasional tidak sama dengan Ujian Nasional, sehingga tidak tepat untuk menyebutnya sebagai pengganti UN. Benar Salah Benar. Asesmen Nasional dan Ujian Nasional berbeda dari segi tujuan dan manfaatnya. Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan Asesmen Nasional merupakan pengganti UN. Asesmen Nasional bertujuan untuk mengukur kompetensi mendasar yang diperlukan siswa dalam menghadapi persoalan di kehidupan. Benar Salah Benar. Asesmen Nasional mengukur kompetensi mendasar (general capabilities) yang dapat diterapkan secara luas dalam segala situasi. Kompetensi mendasar dibangun melalui pembelajaran beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran. Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 1: Konsep Asesmen Nasional